Newzoel’s Blog











{Desember 1, 2008}   3 Doa 3 Cinta

Dona Satelit memang sungguh legit. Penyanyi dangdut itu memiliki dada yang menyembur keluar dari kemejanya, bibir yang subur setiap kali mengucap kata, dan mata yang mengundang setiap lelaki untuk tenggelam di sana. Huda tersedak dan langsung merapat ke tembok; salah tingkah. Huda tak tahu apa yang harus dia lakukan melihat Dona yang mendekatinya. Huda ingin sekali menanam wajahnya ke dalam tembok saking gugup.

Dona adalah Dian Sastrowardoyo. Huda adalah Nicholas Saputra. Dona Satelit adalah penyanyi dangdut kampung yang meliuk di atas panggung dengan heboh, sedangkan Huda adalah anak pesantren yang tampan dan santun. Pasangan kesayangan Indonesia itu akhirnya bersatu lagi. Sejak film fenomenal Ada Apa dengan Cinta? (2001) yang mempersatukan kedua pemain ini, rasanya harapan penonton sudah hampir melalui expiration date; alias: sudah capek menunggu. Apakah mempersatukan mereka dalam film Drupadi (Riri Riza) dan 3 Doa 3 Cinta (Nurman Hakim) yang sama-sama akan tayang bulan Desember itu sudah akan memuaskan penonton yang sudah menanti bertahun-tahun?

Film 3 Doa 3 Cinta berkisah tentang tiga santri: Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama), dan Syahid (Yoga Bagus), yang menempuh pendidikan di pesantren di sebuah desa di Jawa Tengah. Di samping menjalankan ibadah salat, mengaji, mendengarkan wejangan kiai, dan berlatih menabuh rebana, diceritakan oleh Nurman Hakim sisi lain para santri. Trio Huda, Rian, dan Syahid sama seperti remaja lelaki lain: ereksi di pagi hari; ngantuk saat salat subuh. Tapi yang paling menarik adalah ritual mereka di reruntuhan tembok dekat pesantren. Kepada tembok itu, mereka mencurahkan isi hati. Huda menuliskan tahun-tahun wafatnya orang-orang yang penting dalam hidupnya. Sembari merokok, Huda selalu menceritakan keinginannya untuk mencari ibunya, yang menitipkan dia ke pesantren itu sejak Huda berusia 11 tahun. Rian bercita-cita membuka usaha video kimpoian; sedangkan Syahid, sesuai dengan namanya, bercita-cita ingin mati syahid.

Meski berlatar belakang pesantren dan bernapaskan Islam, film ini mungkin tak bisa diberi label film religi. Paling tidak, ia tidak dalam satu napas yang sama seperti film Ayat-ayat Cinta (Hanung Bramantyo). Sementara film yang diangkat dari novel laris Habiburrahman El Shirazy itu menampilkan tokoh utama yang ”suci” dan ”sempurna”, film 3 Doa 3 Cinta justru lebih santai dan relaks bertutur tentang kehidupan para santri dari segala sisi. Santri dalam film ini adalah manusia biasa yang juga memiliki hasrat dan tak bebas dari kesalahan apa pun.

Maka, jika ada santri yang diam-diam menyukai sesama jenis atau ada kiai yang tukang kimpoi atau ustad yang gemar menyerukan ”hancurkan Nasrani dan Yahudi”, itu tak lain karena Nurman ingin berkisah dengan terbuka. Sutradara yang pernah hidup sebagai santri di Demak ini tampak paham seluk-beluk kehidupan pesantren.

Lalu di mana Nurman meletakkan pasangan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas yang ditunggu-tunggu itu? Nah, ini dia: Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai penyanyi dangdut Dona Satelit itu adalah ”penyambung” Huda ke Jakarta. Dona yang seksi, menor, dan mata duitan itu bercita-cita menjadi bintang sinetron. Sambil menunggu panggilan casting, Dona manggung dan siang hari rajin berziarah ke makam ibunya di dekat pesantren. Di sana dia berkenalan dengan Huda. Si santri santun meminta tolong Dona untuk mencari ibunya, karena Dona sudah pernah ke Jakarta.

Pasangan ini tampil nyaman dengan peran masing-masing. Dian tampil luar biasa. Seperti Titi Kamal dalam film Mendadak Dangdut (Rudi Soedjarwo), Dian juga menyanyikan sendiri lagu-lagu di film ini. Dengan cengkok dan gaya yang sangat ndangdut, Dian tampil jauh lebih alami. Nicholas, yang semula tampak agak terlalu bule untuk seorang santri, lama-kelamaan setelah film bergulir menjelma menjadi seorang Huda yang meyakinkan. Seorang santri pendiam dengan mata yang berbicara tentang rindu akan sosok sang ibu itu akhirnya roboh hatinya setelah tiba di Jakarta yang ganas. Nicholas paling bersinar dalam film ini.

Sesuai dengan judulnya, plot utama film ini terletak pada ketiga santri dan cita-cita mereka. Dengan mengurai cita-cita mereka, sang sutradara (yang merangkap sebagai penulis skenario) berusaha menyajikan keseimbangan spektrum para santri. Ada santri seperti Huda yang menolak ikut ustad (di pengajian lain) yang menghujat agama lain; ada santri seperti Syahid yang tertekan secara ekonomi dan mudah terpesona oleh karisma seseorang, lantas saja mendaftar untuk menjadi ”relawan”.

Seluruh kisah ini mengalir lancar dengan gambar-gambar yang alamiah serta dialog cerdas dan penuh humor. Tentu saja ada adegan yang agak kedodoran, misalnya saat serombongan polisi menangkap para santri. Tapi, diiringi waktu, Nurman Hakim akan menempatkan dirinya sebagai sutradara yang diperhitungkan.

klo ak ma yang ak peritungin hanya dian sastronya hehehehe……….

(source : Kaskus.us)




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: